Rabu, 28 November 2018

Alkisah

Sobekan kertas itu berserakan, seperti ada yang baru saja merobeknya menjadi berantakan. Buku lain mulai menghampirinya karna mendengar ada suara tangisan pilu dari kertas tersebut. Makin di dekatkan suaranya makin terasa menyakitkan. Buku lainnya itu lantas mengurungkan niatnya untuk bertanya, tapi sobekan kertas itu berkata, “Anak manusia itu yang membuatku jadi seperti ini” Buku lain itu melihat dengan terkesima, bahkan sebelum menyobeknya, buku yang terlihat ringkih itu telah di nodai dengan banyak bolpoin hitam pekat. “Aku tidak bersungguh - sungguh dalam perkataan—“ sobekan kertas itu menarik napas sejenak “—aku hanya tak bisa berhati - hati dalam ucapanku” Tangisan itu kembali memecah kesunyian, sambil berbisik dia mengatakan maaf, sembari menyalahkan dirinya sendiri. Sobekan kertas itu hanya ingin mendapat perhatian, terlalu malu untuk mengatakan isi hati yang sebenarnya. Diam - diam buku lain itu mundur, ia hanya ingin mencari dimana anak manusia itu. Selang beberapa waktu ia menemukan anak manusia itu sedang duduk sambil menyesap kopi hitamnya. Ia tampak sibuk dengan pekerjaannya, dengan kesenangannya. Buku lain itu kini akhirnya mengerti apa yang tengah di rasakan sobekan itu, dia merasa dilupakan. 

—whenthenightcomes

Sabtu, 24 November 2018

Waktu luang

Kelak, Saat kau libur dan tak kerja
Saat jalanan tertidur dan
Tetanggamu sedang ingin akur
Kau akan membaca puisiku Telanjang dan rindu

Sabtu, 30 Juni 2018

[Kosong]


—Oleh Rizka Desvita


Hari ini hari aku
Hari ini lalu terlewat

Sudahlah, tak perlu kau ucap selamat
Aku tidak ingin mencari
Rasanya terlalu gengsi
Tersipu sampai ingin mati 

Aku paham mahalnya waktumu
Jika ini terbaca
Syukurlah, kau sempat
Tak mengapa Ini bukan apa - apa

Hiduplah
Kejar cahaya anganmu
Mimpi yang kau nyanyikan

Basuh wajahmu
Pertemukan dahimu pada sajadah
Kau tahu nilaimu bukan sekedar tampan

Tersenyumlah
Berbahagialah

 May 19, 2018
1.22 AM

Senin, 30 Oktober 2017

Hello there! Another motivation for myself
Tidak ada alasan untuk kita bersedih Karena Allah bersama kita Dia dekat dengan kita, Bahkan lebih dekat dari urat nadi. . 
“ ….Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat.” (Al-Baqarah: 186) . 
Jadi, jangan bersedih ya atas segala masalah yang sedang menimpamu. Jangan katakan bahwa kau mempunyai masalah besar, namun katakanlah pada masalahmu, bahwa kau punya Allah yang maha besar. . Selalu ingatlah, 
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (Al Baqarah: 286) . Dan jangan pernah berhenti untuk berfikir positif, sekalipun itu pada masalahmu. Terkadang, masalah adalah sahabat terbaik yang bisa mendekatkan kita pada Sang Pencipta. 🍃🍃🍃 .

 📝@anggun.3c #duniajilbab

Jumat, 27 Oktober 2017

“I am broken. I’ve been abandoned and ignored too many times to still be whole. I don’t trust people anymore, not with something as important as my heart.

You were different. You slipped right through the cracks. I told you things I never meant to tell anyone, things I’d hidden so deep that I had to crawl through the darkness to find them. You brought out a version of me I didn’t know existed anymore. 

But, you didn’t fix me. I am still broken and now you’re cheating and that’s okay. I’ve been broken before, one more crack won’t kill me. Just please stop asking me if I’m okay. Please stop caring so much. Don’t make this harder than it has to be.”

—ifthenightcouldtalk,
“Are you okay?”



Sunday, October 15
Everytime we fight—which is always be a massive fight—it drains my emotion, my energy, my positive thoughts.

I was always be, "I'm not going to mess this one, I'm going to make it right, I can do it." But the results are far from what I've predicted before.

I always asked myself at the time, "What's wrong with me? Can I do this for once and never fail?"

You said that I need to stop thinking, feeling, or whatever but just doing it. And I did it but I was such a disappointment. I can be carefree for whatever it will turn to be later but the fact is, I can't.

Everytime we fight—which is always be a massive fight—I cannot stop to think that there's always a possibility that you will hurt yourself and the cause behind that is me. You are not only hurting physically but also emotionally and it makes me mad. I cannot accept the fact that you should bear the pain but I should be the one who takes it for you instead.

This is why when you asked me until when I am being like this, not doing any better but keep repeat the fight over and over again, desperately begged for another chance... Even when you shouted I should have gone from your sight and go home, I shouted back that I can't! I can't leave you with the rage and still boiling up with anger.

It is not because I want to be a good kid and try to take my responsibility and calm you down. It is beyond that. Because, really, I am not that brave, if you want to know. I am often afraid with your fury, traumatic even. Mentally I wouldn't throw myself to the kind of situation that I cannot handle very well, moreover, have control on.

It is because I am tired... I am tired to make you mad and I am the cause of it.

I want to hit my face hard and remind myself that all I want, is to see you smile. To make you happy. To be a real good kid and never irritate you. And that's the reason why I want to change.

I don't want to be remembered in your mind as someone who loves to have fight with you, can't even repair the damage, never change to be better, and be the cause of your sufferings, bruishes and scars even.

It is delusional but I want to be remembered by you as someone who is the source of your happiness, make you get the happy times, causes you to laugh and smile, enjoy the joyful moments. And it is not because I want to get your heart, it is none of that sort of business, it is a sincere expression from me, as someone who loves you dearly to never see you in anything but happiness only.

—C. h.

Kamis, 28 September 2017

Sudah ya, berhenti untuk berpura-pura peduli.
Kasihani dirimu sendiri, melelahkan jika harus bersama aku yang terlalu sulit dimengerti.
Dan cinta, mungkin cuma aku yang merasakannya.
Kamu hanya sungkan untuk membuat jarak denganku sehingga mengorbankan dirimu untuk tetap seolah ada untukku.

Jangan masuk dalam jebakan bernama rasa nyaman.
Kamu pantas bahagia, bukan denganku tentu saja.
Menyakitkan harus berkata seperti ini, tapi aku yakin segalanya akan membaik kembali suatu hari.

Kali ini aku sungguh tahu diri, aku ingin kamu mendapat bahagiamu tanpa harus terbebani dengan hadirku.
Berjalanlah terus ke depan, jangan sekali-kali menoleh lagi ke arahku.
Sebab hanya akan membuatku semakin susah melepasmu.

Kelak, jika kita bertemu kembali, kupastikan kamu sudah bahagia.
Semoga aku juga.
Terima kasih untuk cerita yang pernah ada.
Aku berhenti sampai sini saja.


Repost from,
—SatuHuruf
#SunyiBerbunyi

♥ MUSIC ♥

♥ MUSIC ♥
come play keyboard

♥ MUSIC ♥

♥ MUSIC ♥
come sing a song