Jumat, 19 Juli 2019


—Oleh Rizka Desvita

Most people do not stop cheating when caught, they will find a less risky way of cheating so they do not get caught again instead. I learned it the hard way. I feel the need to go through you again and again and I feel insecure, asking myself what I did wrong. I will start hating myself over my partner's inability to be loyal. Even when I don't find anything. I will still feel the need to dig through etc every once in a while. it’s unhealthy. 


—May God be with you

Selasa, 16 Juli 2019

Le Mythe de Sisyphe


—Oleh Rizka Desvita

Mengutip pemikiran dari buku seorang sastrawan asal Prancis, Albert Camus. Yang menganalogikan hidup seperti kisah salah satu mitologi Yunani. Sissyphus yang dikutuk Zeus untuk mendorong batu hingga ke puncak, tapi saat sudah sampai ke puncak gunung, batu itu akan menggelinding kebawah hingga Sissyphus harus kembali mendorongnya, begitu terus hingga tiada akhir. Albert Camus menggambarkan kehidupan seperti kisah Sissyphus dari ketidakmampuan menolak kehidupan, maka kita harus menjalaninya. Upaya mencari makna hidup sama seperti mendorong batu lalu melihatnya kembali menggelinding kebawah, pada dasarnya semua akan sia-sia. Hanya saja kita manusia yang memaknai arti hidup itu sendiri dengan memiliki suatu hasrat dan pencapaian, tapi saat kita sudah sampai diatas, pada akhirnya kita akan tetap melanjalani kehidupan kembali. Albert Camus merumuskan paham absurdisme yang mengartikan kalau hidup itu absurd! usaha manusia untuk mencari arti dari kehidupan akan berakhir dengan kegagalan dan bahwa kecenderungan manusia untuk melakukan hal itu sebagai suatu yang absurd. Seperti kenapa kekecewaan, kesedihan, kemalangan, depresi, dan penderitaan terjadi ? kenapa kesenangan hanya sementara ? mengapa harus ada pengharapan ? Pada akhirnya kita harus sadar bahwa semua itu hanya sementara lalu kita akan melewatinya, mau tidak mau kita harus menghadapinya karena kehidupan akan terus berlanjut.

 —Midnight 00.08 AM Tuesday, July 16

Rabu, 22 Mei 2019

[Merenguk]



—Oleh Rizka Desvita

Apakah ini benar?
Kehangatan yang membakar
Hanya menimbulkan asap
Aku mencoba menelan kebahagiaanku

Semuanya tertutupi satu lapisan lagi
Bahkan hanya bualan kosong
Dan aku hanya berteriak
Sepertinya aku tak mengenalmu

Seperti anggur yang pekat
Bahkan jika itu menjadi gelap
Aku akan minum walau tak mabuk
Aku akan menelanmu

Ini lebih kejam dari yang kubayangkan
Seandainya aku bisa menjadi monster
Lalu aku akan menelan semua pilu
Kumohon, andai aku bisa

 —May 16

Jumat, 10 Mei 2019


—Oleh Rizka Desvita

Being in this place that I’m now, in this spotlight, it’s like yes that does mean a lot of things I used to deal with that were horrible, I hope I don’t have deal with anymore. And I’m just like “fuck you mean it’s too sad? who the fuck is happy?”. but everyone has a same point when they looked in the mirror and looking back again and been like “I'm not about this, I don’t wanna be you.” and I write this exactly when I looked in the mirror. I’m staring in the mirror, I see myself and saying that every single things to that bitch. “who the fuck am I? I’m feel like a shit.” 

 —Mirror

Kamis, 24 Januari 2019

[Rumpang]



—Oleh Rizka Desvita


Aku mencintaimu, sungguh
Walau dengan debar-debur yang mulai kabur
Lalu bukan lagi aku yang mengisi kekosonganmu hatimu
Bukan lagi yang kau cari untuk meluluhkan lelahmu
Maka, izinkanlah aku untuk menjadi bagian kesukaanmu

Menjadi pahitnya kopi yang kau seduh tiap pagi
Menjadi sepuntung rokok yang memenuhi paru-parumu
Menjadi makanan yang membuatmu ingat akan rumah 
Atau bahkan lenggangnya jalanan yang selalu kau singgah

Jika, jika memang
Seumpama setelah jauh puisi ini kutulis
Lalu kau ingin redakan rindu dihatimu
Tak perlu susah payah mencari alasan
Kau hanya perlu membaca kalimat pertama puisi ini

Melangkahlah dan beranjaklah dari posisimu
Karna alamat dan kunci rumahku masih sama


—July 19
23.32 PM

Rabu, 28 November 2018

Alkisah

Sobekan kertas itu berserakan, seperti ada yang baru saja merobeknya menjadi berantakan. Buku lain mulai menghampirinya karna mendengar ada suara tangisan pilu dari kertas tersebut. Makin di dekatkan suaranya makin terasa menyakitkan. Buku lainnya itu lantas mengurungkan niatnya untuk bertanya, tapi sobekan kertas itu berkata, “Anak manusia itu yang membuatku jadi seperti ini” Buku lain itu melihat dengan terkesima, bahkan sebelum menyobeknya, buku yang terlihat ringkih itu telah di nodai dengan banyak bolpoin hitam pekat. “Aku tidak bersungguh - sungguh dalam perkataan—“ sobekan kertas itu menarik napas sejenak “—aku hanya tak bisa berhati - hati dalam ucapanku” Tangisan itu kembali memecah kesunyian, sambil berbisik dia mengatakan maaf, sembari menyalahkan dirinya sendiri. Sobekan kertas itu hanya ingin mendapat perhatian, terlalu malu untuk mengatakan isi hati yang sebenarnya. Diam - diam buku lain itu mundur, ia hanya ingin mencari dimana anak manusia itu. Selang beberapa waktu ia menemukan anak manusia itu sedang duduk sambil menyesap kopi hitamnya. Ia tampak sibuk dengan pekerjaannya, dengan kesenangannya. Buku lain itu kini akhirnya mengerti apa yang tengah di rasakan sobekan itu, dia merasa dilupakan. 

—whenthenightcomes

Sabtu, 24 November 2018

Waktu luang

Kelak, Saat kau libur dan tak kerja
Saat jalanan tertidur dan
Tetanggamu sedang ingin akur
Kau akan membaca puisiku Telanjang dan rindu


♥ MUSIC ♥

♥ MUSIC ♥
come play keyboard

♥ MUSIC ♥

♥ MUSIC ♥
come sing a song